Home Sekitar Kita Viral Bendera One Piece, GP Ansor: Jangan Melebihi Merah Putih

Viral Bendera One Piece, GP Ansor: Jangan Melebihi Merah Putih

1,089
0
SHARE
Viral Bendera One Piece, GP Ansor: Jangan Melebihi Merah Putih

Keterangan Gambar : Ketua Badan Siber Ansor Ahmad Luthfi mengajak generasi muda kembali ke Merah Putih.

 

infokomnews.com - Tren viral pengibaran bendera bajak laut One Piece oleh sejumlah anak muda Indonesia menjadi perhatian badan siber Ansor, organisasi pemuda berbasis Nahdliyin. Mereka menegaskan, pentingnya tetap menjunjung tinggi kehormatan Bendera Merah Putih, terutama menjelang peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Indonesia.

Ketua Badan Siber Ansor Ahmad Luthfi mengimbau masyarakat agar ekspresi budaya tetap berada dalam koridor nasionalisme dan etika kebangsaan.

“Silakan berekspresi, silakan pasang bendera One Piece atau simbol budaya lain, tetapi jangan sampai melebihi ketinggian Merah Putih. Jangan pula mengabaikan makna dan posisi sakral Bendera Negara,” tegas Ahmad Luthfi dalam keterangan resminya, Sabtu (2/8/2025).

Ahmad Luthfi menilai semangat petualangan, keberanian, dan solidaritas dalam serial One Piece memang sejalan dengan nilai perjuangan bangsa. Namun, ia menekankan bahwa simbol negara tidak boleh dikalahkan oleh simbol budaya populer mana pun.

“Kami memahami generasi muda kini mengekspresikan aspirasi dan identitas mereka melalui budaya populer. Namun, tetap harus dalam kerangka kebangsaan,” jelasnya.

Luthfi juga mengingatkan pentingnya meneladani pemikiran Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang mengedepankan kebebasan berekspresi dengan tanggung jawab kebangsaan.

“Kita belajar dari Gus Dur. Kebebasan itu penting, tapi harus tetap dalam bingkai NKRI. Jangan sampai semangat merdeka justru mengaburkan simbol-simbol kemerdekaan itu sendiri,” lanjutnya.

Fenomena bendera bajak laut One Piece dianggap bukan masalah apabila tidak dibawa secara ekstrem. Namun, Badan Siber Ansor mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memperuncing perbedaan.

“Budaya pop bukan ancaman, selama kita mampu mengelolanya dengan bijak. Justru bisa jadi media penguat gotong royong dan nasionalisme,” tutupnya.