Menjelang Mukamar NU ke 34 di Lampung akhir tahun ini, banyak spekulasi yang beredar tersebar di berbagai media, utamanya di sosial media. Namun parahnya, beberapa spekulasi tersebut justru menyesatkan. Diantaranya adalah spekulasi perihal muktamar merupakan pertarungan antara PMII vs PMII.
Kenapa menyesatkan?
ya iya dong, seolah ajang muktamar kayak pertarungan kelas BEM mahasiswa. Terlalu sederhana mereduksi kalau ini tentang tarung antara HMI VS PMII. Hanya karena KH Said Aqil Siradj pernah di PMII dan KH Yahya Staquf pernah di HMI.
Isu kerdil tersebut malah berpotensi memecah belah kader NU yang selama ini adem di bawah dan faham posisi. Ibaratnya, masalah kampus ditarik ke arena kyai-kyai. Picik, bukan?
Padahal ada beberapa persoalan yang jauh lebih lebih subtansial untuk diwacanakan jelang muktamar ke 34 hari ini. Apa itu?
Diantaranya, Pertama soal menyambut satu abad NU di tahun 2026. NU mau jadi apa setelah satu abad eksis?
Nah, posisi ketua umum PBNU ke depan harus bisa mengartikulasikan dan menjawab persoalan ini. Bukan kemudian dikurung dengan wacana anak mahasiswa ala kantin kampus.
Kedua, apa kabar soal internasionalisasi Islam nusantara? kenapa wacana ini menjadi penting? karena selama ini, seolah NU sibuk membabat ideologi-ideologi pemecah belah di hilir.
Selama ekspor ideologi-ideologi yang merongrong NU dan NKRI masih terus digalakkan oleh para majikan eksportirnya, selama itu juga NU akan mondar-mandir di akar rumput berteriak NKRI harga mati, “Islam itu ramah dengan kebudayaan”, dulu wali songo mengawinkan Islam dengan kearifan local dsb.
Ke depan, posisi ketua umum PBNU harus bisa bermain di pertarungan ideologi global. Dalam arti kata, NU harus bisa masuk ke hulu. Bagaimana konsep Islam Nusantara yang membawa Islam washatiyah bisa menjadi role model Islam di dunia.
Hal ini bisa dilakukan jika PBNU sebagai lokomotif jamiyyah mampu mengambil peran-aktif di dunia internasional.
INGAT!!, Almagfurullah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dulu sudah pernah meletakan pondasi dasar gerakan ini.
Jadi sekali lagi, momen Muktamar 34 butuh wacana “gizi” digaungkan di ruang public nahdliyyin ketimbang wacana “rempeyek” dikotomis HMI dan PMII.
Muktamar ke 34 bukan untuk kita gontok-gontokan latar belakang organisasi mahasiswa. Terlebih lagi muktamar akan dihelat di tengah suasana pandemic.
organisasi yang kita cintai ini udah tua, jangan yang diomongkan obrolan bocah. jadi please deh..
yuk ah, aduk kopinya, isap kreteknya…
(Mukhlis Rasyid S, Santri PP Salafiyah Darul Ihsan, Alumni PMII Semarang, Panitia Muktamar NU 32, Makassar)










LEAVE A REPLY