REGENERASI DAN POLITIK KEBANGSAAN GP ANSOR
[Sejenis Catatan dari Pertemuan Belitung]
Oleh : Mang Durahim
Tulisan ini dirangkai dalam perjalana pesawat dari Belitung menuju Jakarta, tulisan sejenis oponi ini tidak seberapa mendalam tapi paling tidak ini upaya reflektif nalar dari sebuah hasil pertemuan yang banyak memberikan ilham, ilmu dan Imun karena tiga hari ini banyak yang bisa di download dari perjalan sederhana tapi hasilnya mempesona.
Tidak ada tendensi apapun dalam tulisan ini kecuali keindahan reflektif silaturahmi dan silatul fikr antar kader Gerakan Pemuda Ansor se- Nusantara bersama ketua umumnya H. Yaqut Cholil Qoumas yang selalu mencintai kader organiknya, bukan kader pestisida yang mudah menyerah ketika ditimpa musibah apapaun termasuk musibah di marahin plus cuekin istri-istrinya.
Ketua-ketua PW GP Ansor se Nusantara diundang sahabat ketua PW GP Ansor Babel termasuk PW GP Ansor Banten pada acara Madrasah Moderasi Beragama yang dilaksanakan di Blitung sebuah kota kecil di bagian kepulauan nusantara dengan hamparan pantai pasir putih, berlumur bebatuan, dihiasi pemandangan indah mempesona apalagi kalau datang kesini bersama cinta kita, bersama para pendamping hati kita, bersama para pemuja harmoni untuk menyaksikan bagaiman indahnya alam Blitung bagai serpihan surga, pantas saja kota ini sempat viral di masa film Laskar Pelangi yang sampai sekarang memori publik masih teringiang akan cerita film penuh inspirasi.
Di pulau indah ini berkumpul dua puluh ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor se-Indonesia, ulama, dan Kader Ansor Babel berdiskusi meski sambil di selingi humor natural versi kader Ansor tapi ada yang lebih penting dari acara itu mendengarkan pandangan Regenerasi Kepemimpinan dan Kebangsaan yang disampaikan oleh ketua umun PP GP Ansor sekaligus sebagai menteri Agama RI H.Yaqut Cholil Qoumas. Dalam padangan ini Gus Ketum menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan dalam sebuah organisasi ditengah pertarungan ideologi dan kebangsaan Indonesia yang terus beradabatasi dengan perubahan zaman.
Perubahan itu telah terjadi di dunia dengan cepat tanpa mengenal batas waktu dan tempat, semua dituntut untuk ikut berubah dari seluruh entitas bangsa pun dengan Ansor dan NU harus paling terdepan mengarungi samudra perubahan ini, dengan cara menyiapkan hardwere kultural dan softwer kultural dengan terus menuguhkan politik kebangsaan bukan orientasi politik struktural atau kekuasaan semata. Keterlibatan dan Ikutnya Ansor dan NU dalam perubah besar dan globalik ini harus dimulai dengan keberhasilan kepemimpinan di tubuh organisasi Ansor dan NU.
Menurut Gus Ketum, kepemimpinan yang berhasil bukan yang mampu melanggengkan kekuasaanya tapi mampu melakukan regenerasi kepemimpinan dengan baik pada penerusnya yang muda, progresif dan visioner agar organisasi berjalan, beradabtasi dengan perkembangan jaman yang terus berubah dengan cepat. Perubahan dan kesadaran regenerasi sejatinya adalah bagian merefres kembali agar organisasi terus mengalami vitalitas dalam menyemai visi kebangsaan sampai yaumil qiyamah.
Vitalitas kebangsaan Ansor sebagai putra sulung NU harus terus terjamin ditengah tantangan internal kebangsaan dan aneksasi nilai ideologi eksternal kebangsaan menyambut revolusi digital ini, tidak bisa Ansor maukuf dan status quo dengan model kepemimpinan model lama yang sering menggunakan obat kuat untuk menjaga vitalitas kepemimpinanya dan gemar melanggengkan kekuasaan padahal kader-kader NU muda berlimpah ruah. Kepemimpan di ansor dan NU tidak etis berjanji akan mundur karena periodik selesai dan memberikan kesempatan pada penerusanya tapi masih takut kehilangan kursi kepemimpinanya. Ansor harus memulai jujur pada khidmat kepemimpinanya agar tidak kwalat oleh organisasi kramat didirikan oleh waliyullah ini.
Regenerasi adalah niscaya dalam oraganisai apapun termasuk di tubuh Gerakan Pemuda Ansor sebagai Banom Nahdlatul Ulama pun dengan NU juga. Tidak ada pempimpin yang bisa lari dari keniscayaan regenerasi kepemimpinan tinggal kapan waktu dan siapa yang akan menggantikanya, jangan sampai regenerasi ini terjadi karena janji di ingkari pada organisasi kramat higga teramputasi kepemimpinanya dengan tragis.
Regenerasi kepemimpin menjadi relevan dan urgen ketika dunia terus memaksa untuk mengikutinya dengan cara membangun kekuatan jaringaan dunia dengan tetap mengerakam nilai dan basis tradisi kita. Tidak bisa di elakan dalam pertarungan global ini dibutuhkan pemimpin yang memiliki basis kompartemen networking mendunia, kompartemen ideologi dan kompartemen logistik yang cukup dengan kreasi kemandirian bukan ketergantungan apalagi mengandalkan belas kasihan.
Sudah hampir satu dekade Ansor dan NU bertarung di dunia maya dan nyata dalam mempraksiskan hubul wathon minal iman warisan para muasis dari serangan kaum minhum yang ingin merebahkan Indonesia dimulai merebahkan Ansor dan NU. Namun Ansor tetap bisa menjaga spiritulaitas dan vitalitas politik kebangsaannya dan memenangkan war of position dan war of opinion.
Bagaimana tidak dikatakan kaum muda NU berhasil dalam war of position ini, ada banyak kader muda NU menduduki posisi struktural seperti Gus Ment dan banyak kader lainnya dalam mengelola kekuasaan. Sungguh ini terjadi bukan karena oreintasi kekuasaan apalagi menjual organisasi untuk mendapatkan posisi tapi keberkahan dari ketulusan mengelola organisasi Ansor dan NU. Tidak ada dalam pikiran kader Ansor meminta jabatan apalagi sampai mengancam mendapatkan posisioning. Semua posisi ini adalah apresiasi pada para pejuang hubul wathon minal iman untuk terus menjalarkan misinya di dalam struktur kekuasaan.
Kekuasaan atau posisi yang di dapat bukan untuk kepentingan pribadi dan golongan saja tapi kepentingan dan kemaslahatan orang banyak terlebih kepentingan agama bangsa dan negara. Kepentingan agama bagaiman agama menjadi sumber inspirasi dan etik untuk kemajuan bangsa dan kekuatan negara serta kesejahteraa warga dengan tidak membedakan perbedaan agama, suku, golongan dan entik. Semua sama di depan agama inilah sesungguhnya kekuatan kemenangan posisi kader muda NU sebagai katalis pejuang NKRI harga mati dan Islam Rahmatan Lil Alamin
Keberhasilan-keberhasilan ini harus terus di transfer dan dilanjutkan para pemimpin pada penerusnya agar kemenangan ini bukan hanya surface saja tapi kemanangan esensial untuk kepentingan kebangsaan yang terus diperjuangkan kita. Dan itu bisa berhasim apabila terjadi regenerasi kepemimpinan yang baik dan sehat agar spirituakitas pun vitalitas oraganisasi terus terjaga serta harokah terus berjalan.








LEAVE A REPLY