Home Tokoh Membaca Kembali Posisi dan Peran Gus Yaqut

Membaca Kembali Posisi dan Peran Gus Yaqut

Gus Yaqut

1,472
0
SHARE
Membaca Kembali Posisi dan Peran Gus Yaqut

Jakarta - Pernyataan Gus Yaqut bahwa "Kemenag adalah hadiah untuk NU" menjadi viral, lantas bergulir polemik. Sebagian menjadi berang dan seperti kebakaran jenggot, sebagian lainnya menanggapinya secara normatif dan moderat, namun juga tak kurang yang justru mendukung pernyataan Gus Men itu.

Mengamati berbagai reaksi tersebut, kiranya tidak bisa dilepaskan dari posisi dan peran sentral Gus Yaqut dalam dinamika politik Islam secara umum dan yang sedang berlangsung di internal NU.

Sejak menjadi Ketua Umum PP GP Ansor, kiprah Gus Yaqut semakin diperhitungkan. Ketegasan dan keberaniannya diakui, baik oleh kawan maupun lawan. Dia tampil paling depan menghadapi dan menghadang kelompok-kelompok intoleran. Dia juga mampu menjadi figur pemimpin yang lantang menyuarakan aspirasi kaum santri. Pendeknya, tidak ada yang menyangsikan kapasitas Gus Yaqut. Dia memiliki segala kelengkapan yang perlu ada pada seorang pemimpin.



Ketika Presiden Jokowi menunjuknya sebagai Menteri Agama, mata dan pandangan publik semakin terarah pada sosok pemimpin muda dari kalangan NU ini. Tidak butuh waktu lama, Gus Yaqut pun langsung memulai berbagai gebrakan di Kemenag yang sudah sekian lama kurang terurus dan bahkan dililit berbagai kasus korupsi.

Sejak awal menjabat, Gus Yaqut langsung menegaskan bahwa dia memimpin Kementerian Semua Agama. Selanjutnya, Gus Yaqut meluncurkan 7 agenda prioritas Kemenag di bawah komando Gus Yaqut, yaitu: Penguatan Moderasi Beragama, Transformasi Digital, Revitalisasi KUA, Cyber Islamic University, Kemandirian Pesantren, Religiousity index dan Tahun Toleransi. Melalui 7 agenda prioritas tersebut, Gus Yaqut berharap dapat menyulap Kemenag menjadi kementerian yang moderen dan sekaligus moderat.

Namun demikian, tidak semua bereaksi positif atas pengangkatan Gus Yaqut sebagai menteri berikut gebrakan-gebrakannya itu. Kelompok-kelompok intoleran adalah yang paling masygul dengan realitas itu. Gus Yaqut menjadi Ketua PP GP Ansor dan Panglima Tertinggi Banser saja sudah sangat merepotkan mereka, apalagi dengan menjadi menteri agama. Kelompok politik di NU pun mulai pasang kuda-kuda karena kabarnya Presiden Jokowi ketika mengangkat Gus Yaqut sebagai menteri agama bukan atas portofolio fungsionaris partai politik. Ketika beberapa pihak mencoba memasangkan Gus Yaqut dengan Ganjar, misalnya, hal ini tentu berpotensi membuyarkan angan-angan tokoh-tokoh politik NU yang sudah mempersiapkan diri untuk mendapatkan tiket politik pada kontestasi di tahun 2024.

Dalam perkembangan beberapa bulan terakhir ini, peran dan posisi Gus Yaqut memang semakin dilirik, apalagi ketika Gus Yahya yang merupakan kakak kandungnya telah memantapkan diri untuk maju mencalonkan diri sebagai Ketua Tandidziyah PBNU. Jika Gus Yaqut pribadi saja sudah memiliki modal politik yang sedemikian besarnya, bayangkan jika Gus Yahya yang akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Kombinasi keduanya yang sangat lengkap dari segi nasab dan intelektualitas, di satu sisi menjadi harapan besar kaum santri, namun di sisi lain menjadi momok dan ancaman bagi lawan-lawan politik eksternal maupun internal.



Dari ulasan singkat di atas, posisi dan peran Gus Yaqut memang harus dibaca melalui 2 (dua) sisi:

Pertama, Gus Yaqut adalah politisi muda NU yang mewakili harapan dan imajinasi politik kaum santri dalam politik Indonesia. Pada posisi ini, Gus Yaqut mesti menjalankan peran sebagai role model dan motivator bagi kaum santri. Dalam konteks ini, yang disampaikan oleh Gus Yaqut terkait sejarah Kementerian Agama adalah tafsir historis atas jejak perjuangan dan jasa para pemimpin bangsa pendahulu dari kalangan NU. Apalagi nyatanya memang telah terjadi distorsi sejarah terkait peran pemimpin NU, misalnya pengaburan sejarah atas kiprah dan jasa K.H. A. Wahid Hasjim yang begitu besar dalam pendirian dan pertumbuhan Kementerian Agama.

Kedua, Gus Yaqut adalah sosok negarawan yang moderat. Sebagai seorang menteri agama, Gus Yaqut senantiasa berpegang teguh pada dasar negara dan konstitusi. Dalam setiap kesempatan, dia selalu memposisikan Kementerian Agama sebagai pengayom seluruh umat beragama. Gus Yaqut juga tidak henti-hentinya menegaskan komitmen kebangsaan dan keberagaman yang merupakan inspirasi dari panutan politiknya, Gus Dur. Hal ini sudah terekam mendalam dalam memori kolektif publik yang tidak akan mudah terhapuskan oleh hoax, hasutan, ataupun intrik politik jahat.

Gus Yaqut memang telah memiliki tempat khusus di hati para santri dan kelompok-kelompok minoritas. Gus Yaqut, mau diakui atau tidak, adalah aset besar bagi NU dan bangsa ini.