Home Dunia Islam Petugas Haji, Melayani Tamu Allah yang Unik dan Menyenangkan

Petugas Haji, Melayani Tamu Allah yang Unik dan Menyenangkan

1,475
0
SHARE
Petugas Haji, Melayani Tamu Allah yang Unik dan Menyenangkan

infokomnews.com - Menjadi bagian dari petugas haji dan bertugas melayani para jamaah haji adalah sebuah pengalaman yang unik sekaligus menyenangkan. Melayani para tamu Allah, begitu biasa panggilan pemuliaan kepada para jamaah haji, bukanlah tugas ringan.

Sebagaimana sifat sebuah pelayanan, kepuasaan pengguna adalah segala-galanya. Indikator bahwa sebuah pelayanan dianggap berhasil jika si pengguna pelayanan merasa terpuaskan.

Akan tetapi, melayani jamaah haji lebih dari sekadar itu. Pelayanan terhadap jamaah haji mempertaruhkan nama Indonesia. Apalagi sejak awal Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, me-wanti-wanti petugas agar melayani jamaah haji seperti keluarga sendiri.

"Jamaah haji yang ada di Tanah Suci ini anggaplah mereka ibu kita, bapak kita, saudara kita, adik kita, kakak kita, sehingga secara total kita bisa memberikan pelayanan kepada mereka dengan baik,” kata menteri agama.

Menteri Agama juga mencanangkan zero mistake dalam pelayanan haji. Sekalipun ini nyaris tidak mungkin dicapai. Sebaik apapun kita melayani pasti tidak mungkin memuaskan semua pihak karena ini menyangkut keragaman latar sosial para jamaah, jangka waktu pelayanan yang lama, dan yang tidak kalah pentingnya, di negara orang lain, di mana kita tidak memiliki otoritas penuh untuk pengendalian dan penyiapan infrastruktur. 

Melayani jamaah haji juga berbeda dengan layanan yang diberikan oleh jasa tour and travel untuk perjalanan wisata biasa. Bagaimanapun juga, haji adalah sebuah perjalanan ibadah. Setiap orang dalam jamaah berniat untuk menyempurnakan agamanya karena haji adalah ibadah kesempurnaan.

Karena itu, jenis layanannya juga berbeda. Para jamaah tidak semata-mata dimanjakan dengan layanan transportasi dan akomodasi. Tapi juga memastikan bahwa prosesi ibadah sebelum, saat, dan sesudah haji berjalan sesuai dengan tuntunan agama. Inilah yang membuat pelayanan terhadap jamaah haji terasa unik.

Yang tidak kalah unik adalah perilaku para jamaah. Bagi sebagian besar jamaah, haji adalah perjalanan luar negeri pertama kalinya. Sebagian besar di antara mereka tidak pernah naik pesawat dan tinggal di hotel.

Ini memunculkan perilaku aneh-aneh. Sejak di pesawat, petugas haji harus siap untuk membantu jamaah memasang sabuk pengaman. Hal ini belum seberapa, awak kabin tidak jarang harus membersihkan toilet karena jamaah tidak tahu cara menggunakan flush di toilet pesawat untuk membersihkan kotorannya sendiri.

Sampai di bandara Jeddah atau Madinah (tergantung jadwal terbang keberangkatan), para petugas harus siap menggendong beberapa jamaah yang tidak bisa turun dari pesawat karena anggota badannya kaku setelah terlalu lama di pesawat. Beberapa petugas sudah terbiasa mendapatkan gerutuan dari jamaah yang digendongnya karena sedikit tertinggal dari rombongan.

Sampai di hotel apakah masalah selesai? Justru di sinilah berbagai masalah lucu terjadi. Tidak setiap jamaah sekamar dengan orang yang sudah akrab dengannya. Banyak jamaah yang sekamar dengan orang-orang baru, di mana situasi ini memerlukan penyesuaian.

Rata-rata, setiap kamar diisi  empat orang. Jika tiga orang sudah berkawan akrab sebelumnya, sedang yang satu belum, ini bisa memunculkan situasi pelik. Misalnya, ada seorang ibu yang nangis-nangis ke petugas karena dia merasa dimusuhi oleh kawan sekamarnya dan dia menduga dia dijadikan bahan omongan di belakangnya, sekalipun dia tidak tahu bahasa ketiga orang kawan sekamarnya.

Bayangkan betapa pusingnya petugas karena semua kamar sudah penuh dan tidak mudah memindah orang di kamar lain untuk berganti posisi dengan si ibu.

Ada juga seorang jamaah yang tiba-tiba hilang. Teman sekamar dan para petugas kelabakan karena sudah berhari-hari jamaah ini tidak kembali. Tapi yang mencurigakan adalah barang-barangnya juga raib bersamanya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa orang ini pindah ke tempat lain dengan sengaja.

Tapi bagi petugas, ini adalah masalah besar, karena semua jamaah harus terdeteksi keberadaannya. Akhirnya, si orang ini terdeteksi tetap berada di hotel melalui data pasien yang berobat di klinik kesehatan haji Indonesia yang dibuka di setiap hotel. Setelah disanggong beberapa hari, si jamaah ini bisa ”ditangkap” dan dengan segala bujuk rayu bisa dikembalikan ke kamar aslinya.

Sudah dua kali tercatat ada kebakaran bak sampah yang disebabkan puntung rokok jamaah haji Indonesia. Petugas pemadam kebakaran sampai datang untuk mematikan api. Sebagian jamaah haji Indonesia yang laki-laki adalah perokok. Hampir semua hotel akhirnya menyerah dengan membiarkan ruang lobi hotel dan tangga darurat menjadi smoking room. Bahkan ada hotel yang akhirnya menyulap ruang lobi menjadi smoking room resmi. Itulah hebatnya jamaah haji Indonesia.

Saat pelatihan sebelum berangkat, kami diberi tahu oleh narasumber bahwa suatu kali ada peristiwa kebanjiran di sebuah hotel karena sprinkler (pemancar air yang dipasang di langit-langit kamar hotel yang berfungsi sebagai pemadam kebakaran) jebol karena dijadikan sebagai pemancang tali jemuran pakaian.

Jamaah penghuni kamar tersebut memasang tali jemuran yang diikat di sprinkler dan jendela kamar. Akhirnya, sprinkler itu jebol, air memancar tanpa henti, kamar itu banjir dan merembes ke lorong-lorong di lantai tersebut. Alarm kebakaran hotel berbunyi meraung-raung. Semua orang di hotel berhamburan. Petugas kalang kabut. Ketika tahu sumber masalahnya, perasaan para petugas bercampur antara kejengkelan dan kelucuan yang berpadu dalam tawa yang membahana.

Peristiwa itu kembali terjadi di tahun ini. Seorang bapak yang biasa menjadikan apa saja di rumahnya sebagai cantolan baju, mencantolkan pakaiannya di sprinkler. Hasilnya? Banjir kembali terjadi di Tanah Makkah. Untungnya peristiwa ini segera bisa tertangani sehingga banjir bisa dilokalisir, sekalipun semua orang penghuni kamar tersebut barangnya basah kuyub.

Jamaah terpisah dari rombongan dan tersesat jalan? Itu adalah makanan sehari-hari, terutama petugas yang bertugas di Masjidil Haram dan sekitarnya. Di bawah teriknya sinar matahari, petugas harus siap mencari jamaah; mengantar jamaah yang salah terminal bus, di mana jarak antar terminal bisa mencapai satu kilo meter. Atau, petugas yang sudah berdiri berjam-jam di posnya harus siap menemani jamaah menjalankan ibadah sa’i, berjalan tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwa, karena si jamaah terpisah dari rombongan dan belum menjalankan sa’i wajibnya.

Apakah kami lelah? Ya, kami lelah. Tapi kami menjalani semua itu dengan keriangan. Kami sedang melayani para tamu Allah. Kami meyakini bahwa melayani sebaik mungkin kepada para tamu Allah ini memberi kami pahala akhirat yang berlipat-lipat. Kami juga menjadi petugas haji di mana nama baik Indonesia ada di pundak kami.

Kami sadar bahwa setitik kesalahan kami mungkin akan menjadi cacian banyak orang. Apalagi di era di mana segala informasi, termasuk kebohongan, bisa dibagi media sosial dan membentuk opini publik. Sedikit kekeliruan bisa menjadikan objek cibiran. Kami menyadari bahwa perbuatan baik seikhlas apapun dijalani tidak mesti membuahkan pujian. Tapi kami melayani para tamu Allah. Kami menjalaninya dengan keriangan, dan itu menyenangkan. (*)

 

*) Mohammad Nuruzzaman, Pengendali Petugas Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia (PPIH) Pusat; Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia.