Home Tokoh NU Dinilai Perlu Regenerasi di Muktamar Ke-34 NU, Rahmat Hidayat Pulungan Jagokan Gus Yahya

NU Dinilai Perlu Regenerasi di Muktamar Ke-34 NU, Rahmat Hidayat Pulungan Jagokan Gus Yahya

1,326
0
SHARE
NU Dinilai Perlu Regenerasi di Muktamar Ke-34 NU, Rahmat Hidayat Pulungan Jagokan Gus Yahya

Keterangan Gambar : Rahmat Hidayat Pulungan

 

infokomnews.com, JAKARTA – Kader Muda Nahdlatul Ulama (NU) yang juga Komisaris Kimia Farma, Rahmat Hidayat Pulungan berharap Muktamar ke-34 NU yang akan berlangsung 23-25 Desember 2021 dapat menjadi jalan pembuka bagi generasi baru NU.

Mantan pengurus PP GP Ansor ini melihat kaderisasi di lingkungan NU bergerak sangat masif dan terstruktur di semua wilayah dan tingkatan dalam 10 tahun terakhir. "Muktamar ke-34 nanti bisa menjadi jalan pembuka bagi generasi baru NU yang lebih tangguh, adaptif, dan transformatif," ujarnya. 

Untuk mewujudkan hal tersebut, aktivis GP Ansor itu menilai Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya adalah sosok yang tepat untuk menjadi Ketum PBNU periode baru.

“NU perlu pemimpin yang punya banyak breakthrough. Ya harus energik, agile, berani dan visioner. Ada banyak nama yang beredar, tapi sejauh ini saya lihat Gus Yahya lebih siap dan berani,” kata Rahmat.

Rahmat menerangkan kepemimpinan di NU terbagi menjadi dua tingkat, yakni syuriah dan tanfidziyah. Menurutnya, kalau yang dimaksud kepemimpinan di NU adalah tanfidziyah, maka Muktamar NU 2021 adalah momentum alih generasi.

“Tanfidziyah ini kan level operasional, teknis yang sehari-hari menggerakkan roda organisasi. Organisasi atau korporasi di seluruh dunia sekarang ini, eksekutif itu diisi generasi muda. Mereka lebih enerjik, agile dan adaptif. Saya yakin para senior di NU sangat menyadari perkembangan ini,” ujar dia.

Apalagi, regenerasi adalah indikator kesuksesan kaderisasi yang sudah dijalankan oleh PBNU selama ini. Rahmat menyebut regenerasi juga mendorong tanggung jawab sosial dari kaum muda untuk memberikan energinya mengembangkan NU.

“Kita yang muda harus malu dan aware, masa para orang tua kita sudah sepuh dipaksa menjalankan operasional organisasi. Kiai Said ini, beliau kan memasuki usia 70 tahun,” ucap komisaris PT Kimia Farma itu.

“Sudah selayaknya beliau masuk ke level Syuriah. Masa kita yang muda enggak kasihan sama beliau? Dipaksa ngurusin operasional. Nanti orang bertanya, di NU anak mudanya pada ke mana?” tambah dia.

Rahmat berpendapat organisasi yang sehat harus membatasi semua posisi dan jabatan. Ia pun menekankan banyaknya kader muda yang siap melanjutkan estafet pergerakan organisasi adalah bukti keberhasilan kerja NU dalam 10 tahun terakhir.

“NU selalu mengeklaim sebagai organisasi yang sudah transformatif dari fase tradisional menjadi modern. Ya jabatan ketum tentu harus dibatasi,” tutur dia.

Kader Muda Harus Bisa Bangun SDM hingga Berperan di Dunia Internasional

Rahmat mengakui banyak tantangan yang bakal dihadapi calon Ketum PBNU bagi generasi muda. Salah satunya yakni melakukan percepatan pembangunan sumber daya manusia (SDM).

“Ini handicap kita di NU. Apa pun yang mau kita kerjakan ke depan, ujungnya SDM. Pemerintah sekarang ini sedang berlari ke arah peningkatan SDM. Kita di NU ya harus lari lebih cepat,” ungkap Rahmat.

“Kalau kita telat, apa pun yang dikerjakan pemerintah ke depan, posisi warga NU selalu di pinggiran. Nanti kalau sudah di pinggir alasannya kita dipinggirkan, disingkirkan, mencari kambing hitam dari kegagalan kita, kan ini enggak sehat,” imbuh dia.

Selanjutnya, kader muda juga harus menambah kelas menengah baru di NU yang akan menjadi pemicu peningkatan kualitas warga NU ke depan. Seperti berperan lebih banyak di dunia internasional hingga bisa menjadi jembatan dari kebuntuan dan konflik yang ada di banyak negara.

“NU bisa menjadi spokesmen Indonesia dalam situasi krisis yang terjadi di belahan dunia. Suka tidak suka krisis internasional akan merugikan semua pihak termasuk Indonesia dan semua umat manusia,” terangnya.

“Digital transformation yang terjadi mengubah struktur dan pola hidup masyarakat. Mau tidak mau NU harus adaptif. Energi kaum muda NU harus dioptimalkan. Dunia digital kan memang dunianya kaum muda,” lanjut dia.

Di sisi lain, mantan Wakasatkornas Banser ini berharap jelang Muktamar ada lebih banyak kader muda yang berani maju menjadi calon Ketum PBNU baru. Meski untuk saat ini, dia menaruh keyakinan pada Gus Yahya untuk memimpin regenerasi NU.

“Kan Muktamar masih tiga bulan. Kita berharap tokoh-tokoh muda NU yang lain juga muncul,” tandas Rahmat Hidayat Pulungan soal Muktamar Ke-34 NU di Lampung.