Home Dunia Islam Muktamar Dan Juru Kemudi Khittah NU

Muktamar Dan Juru Kemudi Khittah NU

1,416
0
SHARE
Muktamar Dan Juru Kemudi Khittah NU

Membaca Wawancara Tempo.co dengan Kiai Yahya Cholil Staquf hari ini, kembali saya membaca keberanian, kegigihan dan satu ide dan gagasan besar yang kembali saya harus katakan luar biasa.

Soal keberanian, anak Ideologis Gus Dur tersebut kembali menunjukkan satu gagasan cemerlang untuk NU ke depannya, kita masih ingat bersama, bagaimana misi mulia Gus Dur, NU dan Kemanusiaan dunia atas terciptanya perdamaian Israel dan Palestina dengan gagah berani beliau emban, jalan tak populer yang kemudian menjadi bahan cacian orang-orang dan kelompok di luar NU, bagi Kiai Yahya, dan tentu dari semangat gurunya, yakni Gus Dur, membela Palestina tidak cukup dengan hanya berteriak di pinggir jalan dengan membentangkan poster, namun memilih untuk turun langsung berbicara membela hak Palestina di jantung Israel, Yerusalem. Sama seperti dahulu yang dilakukan oleh Kiai Wahab Chasbullah, sebagai bagian dari Komite Hijaz kala itu. Turun langsung ke Jantung Arab Saudi, satu semangat Muassis NU yang beliau ambil perannya kini.

Kali ini, semangat untuk Kiai Yahya maju menjadi ketua umum PBNU dengan menawarkan gagasan yang brilian dan lagi-lagi berani. NU menurut beliau, ke depannya tidak boleh lagi menjadi pihak dalam kompetisi politik Bangsa ini. “Jangan sampai NU menjadi pihak dalam kompetisi politik. Karena ke depan ini, kompetisi politik ini cenderung lebih intens, lebih rawan. Sehingga diperlukan satu komponen sosial yang cukup kuat untuk menjadi penyangga sistem. Supaya kalau ada kontraksi bisa jadi semacam penjaga harmoni dalam masyarakat. Karena itu tidak boleh jadi pihak. Kalau NU jadi pihak, NU tidak bisa menjadi pendamai.” Marwah besar NU sebagai payung teduh bagi terik riuh perpolitikan bangsa ini bisa terlaksana, NU dengan segala kebesarannya, teguh pada nilai-nilai sebagai pendamai, sebagai penyangga damai dan rukunnya bangsa ini, sekali lagi yang sangat menarik adalah, bahwa NU tidak boleh menjadi pihak dalam arus perpolitikan bangsa ini. Ini satu gagasan yang sangat luar biasa.

Lantas apakah kader NU tidak boleh berpolitik? Ini pertanyaan konyol yang akan banyak terlontar, tentu saja boleh, sangat boleh, senyampang punya kapasitas dan kredibilitas Monggo saja, semangat Gus Yahya adalah semangat jangan ada calon Presiden, misalnya, dari PBNU. PBNU jangan dijadikan kendaraan politik. Satu gagasan yang luar biasa, sebagai anak muda NU, saya dan kawan-kawan di bawah menilai, bahwa NU adalah payung Bangsa, adalah penyanggah Bangsa, kontestasi perpolitikan sangat riskan terjadinya perpecahan, NU, yang Dawuh Kiai Yahya, sekali lagi, jangan menjadi pihak yang ikut di dalamnya. Siapa yang akan menjadi juru damai bangsa ini jika bukan NU?

Muktamar NU ke-34 sebentar lagi, Pengurus Wilayah dan Cabang yang akan punya hak suara untuk menentukan pilihannya, siapa juru kemudi NU yang layak untuk membawa gerbong besar bernama NU agar bisa menjadi payung teduh, tidak hanya bagi Indonesia, namun dunia. Yang tidak lagi menjadi salah satu pihak dalam kontestasi Politik Bangsa ini, semangat kembali ke Khittah 1926 yang lahir di Muktamar 1984 Situbondo.
Terima kasih Gus Dur, salah satu anak didik Njenengan kini menawarkan gagasan dan ide luar biasa untuk PBNU ke depannya, di tengah arus perpolitikan bangsa dan dunia yang mau tidak mau, NU harus menjadi payung teduh dan penyangganya. Bismillah Kiai Yahya, Qobul Maqsud, Amin ...