infokomnew.com - Sebelum membahas lucunya, kita bahas dulu soal bagaimana struktur organisasi di Nahdlatul Ulama (NU). Struktur NU itu unik. Ada dua struktur, Tanfidziyah dan Syuriah.
Tanfidziyah adalah pengurus harian. Ketua Tanfidz disebut ketua diikuti struktur yang melekat. Misalnya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Ketua Pengurus Cabang Nadhldatul Ulama (PCNU) dan seterusnya. Sementara Syuriah, di PBNU disebut Rais Aam, lalu Rois Syuriah di tingkat PWNU dan seterusnya.
Pengurus Harian - Tanfidziyah, adalah para pegawai di NU. Gus Yahya ya pegawai NU, direkturnya ya Rais Aam, Romo Yai Miftahul Akhyar. Artinya, komando tertinggi ya di Rais Aam. Pengurus Tanfidziyah sam'an wa ta'atan pada Syuriah, Sendiko Dawuh. Kata Syuriah A, ya Tanfidz A.
Tidak mudah menjadi Syuriah di NU. Paling tidak ada 4 dimensi untuk bisa mengemban jabatan Syuriah.
Pertama, dimensi keilmuan. Syuriah adalah gudangnya ilmu, biasanya pemangku Pondok Pesantren, mereka gudangnya Ilmu. Kedua, dimensi Spiritual, menyangkut ketokohan moral yang harus dimiliki oleh seorang syuriah NU sehingga ia bisa menjadi panutan bagi masyarakat di lingkungan sekitarnya.
Ketiga, dimensi kepemimpinan sosial. Syuriah harus mampu mempengaruhi masyarakat di lingkungan sekitarnya dengan kemampuannya memenuhi kebutuhan masyarakat, mempengaruhi pandangan masyarakat dan mampu memecahkan problem di tengah masyarakat.
Lalu terakhir, dimensi administrative. Sebagai seorang Syuriah, mereka harus mampu mengelola dan mengatur organisasi dengan baik. Dimensi administratif tidak selalu berkaitan dengan tulis menulis, tetapi bagaimana mempertemukan berbagai kepentingan. Ini bukan kata saya, tapi dawuhnya Romo Yai Tolchah Hasan, mantan Wakil Rais Aam.
Untuk kasus Romo Yai Marzuki Mustamar, beliau Ketua Tanfidziyah, Ketua Harian PWNU Jawa Timur. Rois Syuriah PWNU Jawa Timur, Romo Yai Anwar Manshur, mempunyai wewenang dan mengawasi pada nilai-nilai administratif.
Romo Yai Marzuki Mustamar, telah duberikan Surat Peringatan (SP) dua kali, karena ada pelanggaran organisasi. Maka Romo Yai Anwar Manshur mengkomunikasikan hasil pengawasan tersebut kepada PBNU.
Jadi, ini bukan soal subjektivitas dalam mengambil kebijakan. Bukan suka tidak suka. Namun pada dasar-dasar keputusan yang sudah memalui mekanisme organisasi yang benar dan sesuai Anggaran Rumah Tangga NU.
Ini biasa terjadi. Menyoal keputusan Rois Syuriah, sama saja menyoal pembina, pengarah di NU yang sama-sama kita muliakan. Tuturnya kita panuti dalam laku sehari-hari.
Itu su'ul adab namanya. Bilamana, masih terdapat pihak-pihak yang meragukan atau bahkan, mendistorsi keputusan yang sudah diambil melalui jenjang administratif. Saya haqqul yaqin, Yai Marzuki ya legowo, itu pasti. Beliau paham betul bagaimana NU dikelola.
Lalu kemudian diseret ke politik. Lalu ada sentimen yang kemudian bernafas mufaraqah. Naasnya bukan dr Yai Marzuki, tapi orang lain yang sakit hati. Ini aneh dan lucu.
Lebih lucu lagi, mufaraqah juga ajak-ajak. Mufaroqoh di NU biasa, seperti mufaraqah-nya Romo Yai As'ad ke Gus Dur. Tapi jangan disamakan, beliau punya kepentingan justru untuk menyelamatkan Gus Dur dari Pak Harto, ini beda. Niatnya demi NU dan Gusdur, bukan karena sentimen politik.
Mau mufaraqah ndak masalah, mau ajak-ajak ndak masalah walau pun lucu. Tapi ingat, ini atas nilai-nilia "ikhtiari" Rois Syuriah PWNU Jatim.
Menyoal hal tersebut, sama saja su'ul adab. santri kalau sudah su’ul adab sama Yai ya repot. Apalagi hanya karena soal dukung-dukungan politik sentimennya. halah...










LEAVE A REPLY