
Keterangan Gambar : KH. Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU.
infokomnews.com – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Yahya Cholil Staquf menjelaskan konteks dan tujuan berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Dalam penjelasannya, Gus Yahya mengatakan bahwa berdirinya NU tidak bisa dilepaskan dari konteks peradaban Islam yang mengalami krisis masa itu.
“NU didirikan dalam konteks krisis peradaban dan para muassis mendirikan NU ini sebagai rintisan untuk membangun peradaban yang baru,” kata Gus Yahya.
Gus Yahya mengakui bahwa tidak ada rujukan pendapat dari para muassis terkait mendirikan NU sebagai rintisan peradaban baru. Ia menjelaskan bahwa, yang ada hanyalah isyaroh. Dan pemikiran ini, bertolak dari prasangka baik Gus Yahya terhadap kearifan dan kejeniusan para kiai.
"Kalau kita gabungkan macam-macam elemen yang ada, seperti puzzle, mulai dari konteks kalahnya Turki Utsmani dalam Perang Dunia Pertama, runtuhnya Turki Utsmani sampai isyaroh tentang lambang yang sebetulnya, pada masa itu sangat musykil. Lambang jagad waktu itu,” lanjutnya.
Gabungan dari peristiwa-peristiwa ini, kemudian ditafsirkan Gus Yahya sebagai sebab didirikannya NU dengan tujuan merintis peradaban. Runtuhnya Turki Utsmani, menunjukkan hilangnya otoritas tertinggi atau hakim, yang hukumnya bisa mengakhiri perbedaan. Maka, dibutuhkan satu badan yang bisa menggantikannya.
“Tafsir saya, Kiai Wahab Hasbullah itu membuat Komite Hijaz, kemudian menemui Abdul Aziz untuk ngecek, bisa gak Saudi Arabia mengantikan Turki Utsmani sebagai hakim tadi?” cerita Gus Yahya, “fakta bahwa pulang dari Hijaz lalu Kiai Wahab mengusulkan untuk mendirikan Nahdlatul Ulama, menurut saya itu berarti Kiai Wahab menyimpulkan bahwa Saudi tidak bisa menggantikan Turki Utsmani,” Gus Yahya melengkapi.
Gus Yahya juga mengatakan dalam Qonun Asasi yang berisi khutbah dan risalah Ahlussunnah wal Jamaah yang ditulis Kiai Hasyim Asy’ari menggiring persepsi umat untuk menerima NU sebagai “hakim”.
"Ulama yang diajak gabung, ulama yang secara hati-hati mengambil agama dari sanad yang sungguh-sungguh legitimate, sehingga legitimasi dari NU betul-betul bisa dipertanggungjawabkan dan dipelihara sungguh-sungguh,” ujar Gus Yahya.
Dengan dasar inilah, Gus Yahya menyatakan bahwa NU ini adalah mandat peradaban, sampai NU punah. Dan selama NU masih hidup, mandat peradaban itu masih dan tidak boleh kita lepas. Untuk menuju itu, Gus Yahya memaparkan perlu adanya perubahan dalam konstruksi organisasi, termasuk adaptif.
“NU mau punah atau ndak tergantung kemampuan kita untuk beradaptasi. Selama kita belum punah kita masih mengemban mandat peradaban tadi,” pungkasnya.











LEAVE A REPLY