infokomnews.com - “Kita perlu memupuk munculnya jenis orang baru yang berpikir modern tetapi masih berhubungan dengan masa lalu”, kata Gus Dur seperti yang dikutip Bret Stephens jurnalis The Wall Street Journal dalam sebuah tulisan mengenang Gus Dur berjudul “The Last King of Java” (7/4/2007).
Mungkin tidak hanya Stephens yang mempunyai pemikiran serupa. Jamak masyarakat, khususnya, Nahdliyin yang berpikir; Indonesia akan kesulitan menemukan orang sekaliber Gus Dur.
Ya, perihal ketiadaan seorang “Raja” yang bisa diterima oleh semua kalangan baik lokal, nasional, bahkan internasional. Sebegitu besarnya sosok Gus Dur tertanam di ingatan kita, sampai-sampai orang mengenali Nahdlatul Ulama itu ya Gus Dur dan Gus Dur adalah Nahdlatul Ulama itu sendiri.
Karena itu pula, kepergiannya tidak lantas menelan pula warisan yang sudah banyak diukir dan ditorehkannya lewat jerih payah. Nyatanya, Gus Dur terus-menerus dihidupkan, menjadi nyala dari api perjuangan seluruh elemen masyarakat Indonesia.
“Di masa Gus Dur, NU mengalami evolusi. Di era Gus dur itu titik balik penting dalam sejarah NU. Gus Dur mengimajinasikan NU itu berbeda,” kata KH Ulil Abshar Abdalla.
“Gus Dur adalah sosok pendekar yang nyaris tak terkalahkan. Pada waktu itu, tak ada yang tak sepakat bahwa beliau adalah salah satu tumpuan harapan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Pada waktu itu pula, Gus Dur meyakini bahwa nasib Islam ini, tidak ada cara yang lebih baik untuk menolong nasib Islam ini selain dengan cara menolong kemanusiaan seluruhnya,” kata KH Yahya Cholil Staquf.
Kalau boleh dikatakan, nyaris, Satu Abad Nahdlatul Ulama ini diwarnai oleh kiprah Gus Dur yang gigantik. Bagaimanapun, Gus Dur adalah tumpuan harapan masyarakat Indonesia, khususnya Nahdlatul Ulama.
Tidak berarti kami, anak zaman ini, merasa pesimis menghadapi zaman baru nanti. Mengingat Nahdlatul Ulama sendiri tercetus dari candraan para kiai ketika menjumpai dunia yang memerlukan tatanan peradaban baru.
Gus Yahya lalu menyebut KH Wahab Hasbullah, di era awal-awal kelahiran Nahdlatul Ulama sebagai “wali peradaban”, dalam usaha mengagumi candraan serta pemekaran agenda yang diinisiasi oleh KH Wahab Hasbullah untuk mengajak para ulama berserikat, membangun perkumpulan dan menjalankan misi keulamaan.
Usaha itu membuahkan restu dari gurunya; Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sehingga dibentuklah Nahdlatul Ulama sebagai penanda kebangkitan kesadaran akan tanggung jawab menata bentuk maupun tatanan dunia yang berubah-ubah, pada hari Ahad, 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1344 H.
Oleh karena itu, nanti 7 Februari 2023 M/16 Rajab 1444 H adalah momentum Satu Abad Nahdlatul Ulama. Sebagai organisasi masyarakat Islam terbesar, NU mempunyai kepentingan untuk membangun dan menampakkan peran yang lebih signifikan terhadap tatanan peradaban global.
Dengan keyakinan tinggi, Gus Yahya mengusulkan tema ‘Mendigdayakan Nahdlatul Ulama Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru’ untuk dipakai dalam Resepsi Puncak Satu Abad Nahdlatul Ulama nanti di Gelora Delta Sidoarjo.
Menurut Gus Yahya, tema tersebut diambil dari saripati sebuah hadis Rasulullah Saw tentang lahirnya pembaharu di setiap satu abad. “Allah Swt setiap 100 tahun membangkitkan di kalangan umat ini pembaharu,” kata Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menerjemahkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud.
Maka 7 Februari 2023 nanti adalah momentum istimewa, momentum melangkahkan kaki, memasuki gerbang Abad Kedua Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyyah yang selalu berperan penting terhadap terbentuknya gelanggang peradaban baru dunia. Semoga.











LEAVE A REPLY